
Reyal, 12 tahun, terlahir dengan kondisi kedua mata yang tak bisa melihat. Menurut keterangan dokter, Reyal bisa berjalan dengan mengandalkan insting dan pendengarannya, terutama di jalur yang sudah ia hafal. Sedihnya, kondisi tersebut membuat Reyal mengalami bullying di sekolah hingga trauma dan tak lagi berani melanjutkan pendidikannya.

Meski menyimpan kesedihan dan trauma akibat bullying, Reyal tetap berusaha bangkit dan melanjutkan hidup. Di usia yang masih 12 tahun, ia rela berjualan es mambo demi membantu kakek dan neneknya, terlebih sang ayah telah berpulang saat Reyal berusia 9 tahun, sementara ibunya harus bekerja cukup jauh dari rumah. Di tengah keadaan keluarga yang tak mudah, Reyal berusaha membantu orang-orang yang selama ini merawatnya.
Kini, perjuangan Reyal semakin berat karena kakek mengalami stroke hingga kesulitan menggerakkan salah satu kakinya, sementara neneknya juga sakit-sakitan karena usia yang sudah lanjut. Setiap hari, Reyal berjualan es mambo untuk bisa membantu kebutuhan keluarga dan biaya pengobatan mereka. Namun, dagangannya jarang laku dan jika pun laku, penghasilannya hanya Rp5.000 sehari, itu pun masih harus dibagi dengan pemilik es mambo.

Berat sekali perjuangan Reyal di usia yang masih begitu muda. Uang yang ia harapkan bisa membantu kakek dan neneknya berobat ternyata belum cukup, bahkan untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari pun masih sulit. Padahal, Reyal hanya ingin melihat kakek dan neneknya sehat, menemani mereka menjalani hari-hari, dan membantu meringankan beban orang-orang yang selama ini merawatnya.
Kerabat Peduli, Reyal hanyalah seorang anak yang ingin membantu kakek dan neneknya agar bisa mendapatkan pengobatan dan kebutuhan sehari-hari yang layak. Mari kita ringankan bebannya agar ia tak harus berjuang sendirian di usia yang masih begitu muda. Semoga dengan dukungan kita, Reyal bisa membantu keluarganya sekaligus perlahan menemukan keberanian untuk kembali bersekolah dan meraih cita-citanya.
![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik