

Nadira (10 tahun) tinggal bersama dua saudaranya di sudut kampung yang sunyi. Sejak ibunda mereka meninggal, hidup tak lagi memberi pilihan selain bertahan. Nadira pun harus belajar kuat, meski usianya masih begitu kecil
Ia adalah anak tengah dari tiga bersaudara. Abangnya, Arsil (13 tahun), dan adiknya, Jibril (6 tahun), menjadi alasan Nadira untuk terus melangkah. Baginya, kebersamaan mereka adalah satu-satunya yang tersisa

Setiap hari, Nadira berkeliling kampung menjajakan cimol titipan tetangga. Ia berjalan dari rumah ke rumah bersama Jibril, berharap ada yang membeli meski keuntungannya sangat kecil. Dari upah sekitar Rp15.000, mereka sisihkan untuk makan dan bekal sekolah
Namun sering kali penghasilan itu tidak cukup. Pernah seharian mereka hanya minum air putih karena tak ada lagi beras di rumah. Lapar terasa perih, tapi Nadira memilih diam dan tetap tersenyum di depan adiknya

Di sisi lain, Arsil berusaha membantu semampunya. Ia membuat layang-layang dari bambu dan plastik bekas, atau mengarit rumput di sawah demi upah kecil. Meski begitu, kebutuhan mereka tetap jauh lebih besar dari penghasilan yang ada
Saat ini mereka tinggal di rumah kayu peninggalan ibu, dimana atap udah bocor dan dinding mulai lapuk. Rumah itu menjadi saksi perjuangan kecil yang terus mereka jalani setiap hari.
Sedikit bantuan dari kita bisa membantu Nadira, Arsil, dan Jibril hidup lebih layak dan tak lagi menahan lapar
