

Siang itu, aku nggak sengaja bertemu seorang penjual cakue yang menarik perhatianku. Abah Rosim, namanya, sudah berusia 64 tahun dan masih berkeliling mendorong gerobak demi menjajakan cakue seharga Rp500 per buah. Di tengah usianya yang tak lagi muda, Abah tetap berusaha mencari nafkah di perantauan.

Setiap pagi sejak pukul 06.00, Abah sudah menyiapkan adonan untuk dijual hingga sore hari. Sayangnya, dagangan Abah sering kali nggak habis, dan saat ramai pun penghasilannya hanya sekitar Rp20.000 sehari. Penghasilan itu harus ia atur sebaik mungkin, bahkan terkadang hanya cukup untuk membeli bahan jualan keesokan harinya.

Di balik perjuangannya, Abah juga harus menjalani hari-hari dengan kondisi punggung yang bengkok setelah terjatuh dari toilet. Hingga kini, punggungnya masih sering terasa linu dan belum mendapatkan pengobatan yang memadai. Meski begitu, Abah tetap berjualan karena ingin terus memenuhi kebutuhan hidup dan menafkahi istrinya yang tinggal di kampung.
“Kalau Cakuenha ga laku, Abah bagi-bagiiin gratis aja dari pada mubazir”
Di tengah keterbatasannya, Abah masih berusaha berbuat baik kepada orang lain. Ketika cakuenya nggak habis terjual, ia memilih membagikannya daripada membiarkan dagangan itu tersisa. Sementara itu, Abah sendiri tinggal di kontrakan kecil dan pernah kesulitan membayar sewanya, tetapi ia tetap berusaha bertahan demi sang istri.
Abah berharap bisa mendapatkan pengobatan agar kondisi punggungnya membaik dan ia bisa berjualan dengan lebih nyaman. Ya Allah, semoga langkah kecil kita bisa menjadi jalan bagi Abah untuk mendapatkan pertolongan yang dibutuhkan.

Ruang Kita Peduli mengajak #OrangBaik untuk bersama-sama membantu biaya pengobatan Abah Rosim agar ia bisa terus mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan sang istri di kampung.
Yuk, sisihkan sedikit rezeki terbaikmu untuk Abah Rosim. Terima kasih sudah ikut menguatkan perjuangan Abah.

![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik