

Di usia 8 tahun, sepulang sekolah Riska tak langsung bermain. Ia bolak-balik masuk kebun dan jalanan berlumpur untuk mengangkat rumput bersama neneknya. Tangannya kecil, tapi beban hidupnya terasa begitu besar.

Sejak ibunya meninggal dan ayahnya tak lagi sepenuhnya menanggungnya, Riska tinggal berdua dengan nenek. Untuk makan sehari-hari, mereka mengandalkan upah jual rumput yang tak menentu. Kadang hanya Rp10–15 ribu, kadang tak ada sama sekali.

Pernah tiga hari tak ada beras di rumah. Riska hanya diam, memeluk neneknya sambil berkata ia masih kuat menahan lapar. Padahal perutnya perih dan tubuhnya lemas.

Meski begitu, Riska tetap berangkat sekolah dengan tas rusak dan tanpa bekal. Dalam hati kecilnya, ia masih menyimpan mimpi ingin jadi guru agar kelak bisa membantu anak-anak yang senasib dengannya
Riska terlalu kecil untuk memikirkan beras setiap hari. Mari bantu Riska dan neneknya agar mereka tak lagi takut kehabisan makanan, dan biarkan Riska tumbuh dengan harapan, bukan kelaparan


![]()
Belum ada Fundraiser