

Farel masih 10 tahun, tapi hidup sudah terasa lebih berat dari tas sekolah yang ia pikul setiap pagi. Ayahnya telah tiada, lalu keadaan membuatnya tak lagi tinggal bersama sang ibu setelah ibunya menikah kembali. Kini ia diasuh oleh bibinya, dan sejak itu Farel belajar kuat tanpa banyak bertanya.

Setiap pagi Farel tetap berangkat ke sekolah seperti anak-anak lainnya. Ia duduk di bangku kelas dengan seragam yang mulai sempit dan sepatu yang kian usang. Namun semangatnya tak pernah surut, karena baginya sekolah adalah satu-satunya harapan yang masih bisa ia pertahankan.

Saat jam istirahat tiba, Farel bukan hanya murid, tapi juga penjual kecil. Ia membawa termos berisi es mambo dan berjalan pelan menawarkan dagangannya, “Seribu ya…” katanya lirih. Dari seribu rupiah itulah ia menabung harapan agar tetap bisa membeli kebutuhan sekolahnya sendiri.
Namun sayang esnya tak selalu habis terjual. Uang yang terkumpul pun hanya cukup untuk membeli alat tulis yang hilang atau sekadar membantu kebutuhan di rumah bibinya.

Kerabat Peduli, anak sekecil Farel tidak bisa berjuang sendirian. Ia sudah melakukan bagiannya dengan tetap sekolah dan berjualan sepulang kelas. Sekarang, giliran kita
menguatkan langkah kecilnya


![]()
Belum ada Fundraiser