
"Boy cuma pengen bantu keluarga biar gak susah terus. Boy pengen Ayah sembuh, Ibu gak usah bingung cari beras, dan adik-adik bisa terus sekolah."
Boy (8 tahun) harus mengubur masa kecilnya di jalanan. Di usianya yang baru duduk di kelas 2 SD, ia tak punya pilihan lain selain mendewasa lebih cepat. Saat ditanya mengapa seragam sekolahnya kusam dan sobek-sobek, ia hanya tersenyum malu.
Boy tahu, memikirkan baju baru atau sepatu adalah kemewahan yang tak mungkin terwujud di tengah kemiskinan ekstrem keluarganya.

Beban berat itu terpaksa jatuh ke pundak Boy karena ayahnya merupakan penyandang disabilitas fisik yang kesulitan berjalan. Sementara ibunya hanyalah pekerja cadangan di pabrik cuanki dengan upah Rp30.000 sehari yang jarang sekali dipanggil bekerja.
Sebagai anak pertama, Boy tidak tega berdiam diri melihat kondisi orang tuanya serta masa depan kedua adiknya yang masih kecil (TK dan SD kelas 1). Setiap pulang sekolah tanpa sempat beristirahat, Boy langsung keliling berjalan kaki menjajakan es krim.

Saking sayangnya dengan keluarga, makanan gratis (MBG) dari sekolah pun rela ia tahan dan bawa pulang agar adik-adiknya di rumah bisa ikut makan.
Kerabat peduli, perjuangan Dek Boy begitu berat di usianya yang masih sangat kecil. Mari ringankan beban pundaknya dengan memberikan bantuan terbaik agar ia memiliki seragam layak, tidak lagi kelaparan, dan bisa mengamankan sekolah masa depannya.


![]()
Belum ada Fundraiser