

Uang modal habis dicuri saat sholat, pulang ke rumah dengan tangan hampa. Padahal di pundaknya yang sudah membungkuk, ada tanggung jawab besar untuk menafkahi sang istri agar tidak kelaparan di rumah.
Setiap pagi Abah Ujang sudah berangkat memikul tahu keliling dengan langkah kakinya yang gemetar untuk mengais rezeki di jalanan. Penghasilannya tidak menentu, sering kali hanya mendapat untung 20 ribu rupiah sehari, tapi ia tetap memilih jujur berjuang demi kelangsungan hidup keluarganya.

Saat malam tiba setelah seharian memeras sisa tenaga, Abah Ujang hanya bisa berserah diri dan memperbanyak zikir. Ada waktu-waktu menyakitkan ketika ketulusannya justru dibalas kejam oleh jalanan, mulai dari uang modalnya sebesar 85 ribu yang dicuri orang saat ia sedang sujud sholat, hingga dagangannya yang dipalak preman secara terang-terangan.
Dalam kondisi sulit dan penuh ketidakadilan ini, jemari Abah hampir tidak pernah lepas dari tasbihnya, wujud kepasrahan total bahwa Sang Pencipta tidak pernah tidur.

Untuk makan sehari-hari, Abah Ujang sebenarnya juga sering kewalahan karena himpitan ekonomi yang menjepit. Keterbatasan fisik akibat penyakit maag kronis yang sering kambuh membuatnya harus berhemat secara ekstrem, hingga tak jarang ia hanya mampu makan nasi dengan tetesan kecap.
Kerabat Peduli, Abah Ujang adalah salah satu sosok yang begitu tulus menjaga dan merawat istrinya di tengah keterpurukan. Tidak semua orang punya hati sekuat itu untuk terus bertahan di tengah keterbatasan seperti ini. Tapi bukan berarti kita membiarkan perjuangan itu berjalan sendirian tanpa uluran tangan.
Yuk bantu Abah Ujang agar bisa terus bertahan dan memastikan keluarga kecil ini tetap hidup layak, makan cukup, dan punya tempat tinggal yang aman untuk masa depan.


![]()
Belum ada Fundraiser