Di usia yang tak lagi muda, Abah Daryo masih memikul beban berat demi menghidupi keluarga yang menggantungkan harapan padanya. Setiap hari ia berkeliling menjajakan dandang nasi dari seng, meski tubuhnya sering pegal, kram, dan nyeri. Rasa sakit itu ia tahan, sebab baginya berhenti berarti menyerah.

Namun perjuangan Abah Daryo kerap berujung pilu. Dandang-dandang yang ia bawa sering rusak sebelum sempat terjual akibat terbentur di jalanan yang ramai. Kerusakan tersebut tidak ditanggung oleh bos tempat ia mengambil dagangan, sehingga Abah harus mengganti kerugian sendiri.
Ironisnya, dandang yang sudah rusak pun tak laku dijual ke rongsok. Akhirnya, rongsokan itu hanya menumpuk di sudut rumah kecilnya, sementara penghasilannya dari berjualan sering kali hanya berkisar Rp50.000–Rp100.000 per minggu.

Melihat kondisi tersebut, Alhamdulillah telah kita salurkan bantuan sembako dan santunan tunai untuk meringankan beban hidup Abah Daryo. Bantuan ini tidak berhenti pada satu kali penyaluran saja. InsyaAllah, selama tiga bulan ke depan, Abah Daryo akan kembali menerima bantuan serupa secara berkala sebagai bentuk pendampingan dan kepedulian berkelanjutan.
Program bantuan ini diharapkan dapat memberikan ruang bernapas bagi Abah Daryo agar kebutuhan dasarnya tetap terpenuhi tanpa harus terus memaksakan tubuh yang kian renta.

Kisah Abah Daryo mengingatkan kita bahwa perjuangan hidup tidak mengenal usia. Dan melalui kebaikan yang terus mengalir, semoga langkah Abah menjadi lebih ringan, serta harapan untuk hari esok tetap terjaga.
Salam Hangat
Ruang Kita Peduli >< Cancer Support Kuningan







