


Kalau tidak ada kucing, entah siapa lagi yang bisa menemani Abah Ada selain sepi. Hanya kucing-kucing kecil yang berani mendekat, seolah tahu bahwa Abah adalah satu-satunya manusia yang tidak pernah meninggalkan mereka.
Ribuan benjolan memenuhi wajah dan tubuh Abah, akibat Molluscum contagiosum, infeksi kulit yang membuat banyak orang takut sekadar berdiri dekat dengannya.
Dulu benjolan itu hanya bintik kecil yang ia kira bisul. Tapi karena tak pernah diobati, kini seluruh tubuhnya tertutup titik-titik mengeras yang jelas terlihat. Kondisi itu membuat wajahnya tampak seperti luka yang tak pernah sembuh. Sejak itu, pembeli kupat tahu mulai menjauh.

Kupat tahu yang ia buat dengan sepenuh hati sering basi sebelum sempat dijual. Bukan karena rasa masakannya berubah, tapi karena tidak ada satu pun orang yang berani menyentuh dagangannya. “Takut berbahaya, bah,” begitu alasan yang sering ia dengar. Padahal Abah sudah berjualan lebih dari 30 tahun. Dan lebih menyakitkan lagi, setelah didiagnosa sakit kulit, istri Abah memilih pergi meninggalkan dirinya.
Di tengah penolakan itu, hanya kucing-kucing yang datang tanpa rasa takut. Mereka diam, duduk di dekat kaki Abah, menggesek-gesekkan tubuh kecil mereka ke celana lusuhnya.
Mereka menjadi “keluarga” baru yang tidak pernah bertanya, tidak menilai, dan tidak menjauh. Setiap hari Abah menyisihkan sedikit uang untuk memberi makan mereka, meski dagangannya sering tidak laku, meski dirinya sendiri kerap menahan lapar.

Meski tubuhnya lemah dan pendengarannya makin berkurang, Abah tetap memaksakan diri berjualan demi bisa merawat sahabat kecilnya. “Kalau bukan Abah, siapa lagi yang jaga mereka,” katanya pelan.
Kerabat, yuk kita bantu Abah Ada bertahan, agar ia bisa tetap menafkahi diri dan merawat kucing-kucing kecil yang setia menemani saat semua orang memilih menjauh.

