
“Dia beli kerupuk banyak, minta plastik kresek, mak gak punya, dia pergi bilang mau ambil tapi gak balik, abis itu dompet mak ilang,” tubuh Mak Uat gemetar saat mengingat kembali kejadian itu.

Siapa yang tidak patah hati melihat nenek usia 83 tahun teriak minta tolong di pinggir jalan saat dompetnya diambil copet. Pelanggan yang awalnya mau beli dagangan Mak Uat malah mencuri simpanan Mak. Kaki renta Mak Uat yang sudah gemetar dipaksa berlari sekuat tenaga mengejar motor pencopet itu.

Mirisnya, orang-orang disekitar tidak ada yang peduli dan menolongnya. Waktu itu Mak benar-benar merasa sendirian. Akhirnya Ia berhenti mengejar dan menangis di pinggir jalan, bingung sekali menyaksikan satu-satunya tumpuan hidup di masa tua hilang begitu saja.
Uang 2 juta rupiah hasil keringatnya hilang, memaksa Mak Uat kembali berjualan kerupuk keliling. Setiap hari Mak Uat sudah bersiap dengan barang dagangannya di bawah sengatan matahari yang menusuk kulit keriputnya. Ia setia menunggu pelanggan di pinggir jalan demi mencari sesuap nasi tanpa harus mengemis, meski raganya sudah seringkali memprotes karena kelelahan.

Kini, Mak Uat seringkali duduk termenung, tubuh gemetar karena trauma akan kejadian itu. Meski trauma mendalam, ia tak punya pilihan selain kembali ke jalanan. Tanpa uang simpanan, ia terpaksa memeras keringat di usia senja, menjajakan dagangannya dengan fisik yang semakin melemah dan hati yang terus merasa tidak aman.

Kerabat, dukungan kita bukan sekadar mengganti materi yang hilang, melainkan bisa menyelamatkan masa tua yang tenang bagi Mak Uat. Kita bisa mengubah kesulitan hidup yang dihadapi Mak Uat dengan cara:


Terimakasih,
Ruang Kita Peduli
![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik