
Dipanggil nggak nyahut, dilambaikan tangan pun gak bereaksi. Pas penumpang deketin, keliatan tulisan besar di jaket hijaunya “Saya tuli, jika mau bicara, silahkan tulis di kertas/hp..”
Inilah Bu Okta, ojol yang menunggu orderan masuk dengan sabar, meski kepalanya masih sering pusing sejak kecelakaan tiga tahun lalu merusak saraf pendengarannya. Ia hanya bisa mendengar suara keras seperti klakson, selebihnya dunia tetap sunyi.

Dulu hidup Bu Okta normal, punya suami yang ia kira bisa menjadi sandaran. Tapi rumah tangga itu jauh dari aman. Berkali-kali wajahnya lebam dan biru karena dipukul, hingga akhirnya ia memilih pergi.
Sejak saat itu, satu-satunya teman yang betul-betul setia hanyalah kucing-kucing yang ia pungut dari jalanan. Total ada 15 kucing yang ia rawat, sakit, kurus, terlantar, dan sebagian sempat hampir mati. “Saya udah lama pelihara kucing. Walaupun ada yang mati… saya rawat dari hati,” ucapnya sambil senyum.

Dalam kondisi tuli, pekerjaan ojol bukan hal mudah. Banyak penumpang gak tahu bahwa ia gak bisa mendengar. Pernah suatu hari, Bu Okta sudah jalan jauh ke titik jemput, tapi pesanan justru dibatalkan 8 kali berturut-turut.
Saat itu kucingnya di rumah lagi sakit, dan ia butuh uang untuk beli pakan serta obat. Di pinggir jalan, Bu Okta hanya bisa menunduk, matanya panas menahan tangis. “Kalau banyak cancel, saya bingung… nggak bisa beli makan buat kucing,” ucapnya.
Meski lelah, Bu Okta tetap memaksa diri bekerja sampai malam. Kontrakan, listrik, air, dan kebutuhan 15 kucing bukan biaya kecil. Tapi tantangan terbesarnya justru sering datang dari pemilik kontrakan, gak semua orang menerima rumahnya dipenuhi kucing. Ia sudah pindah kontrakan berkali-kali demi tetap bisa mempertahankan hewan-hewan kecil yang ia anggap seperti anak sendiri.

Kerabat, inilah waktunya kita hadir. Yuk bantu Bu Okta merawat 15 kucing yang membuat hidupnya tetap punya alasan untuk bangun setiap hari, agar perjuangan ini tidak harus ia pikul sendirian.

![]()
Belum ada Fundraiser