Di balik keriput wajah dan tubuh rentanya, tersimpan semangat luar biasa dari Mak Titi, seorang lansia berusia 100 tahun yang masih gigih berjualan telur asin di lampu merah. Meski usianya sudah seabad, beliau tetap berusaha mencari nafkah demi menyambung hidup bersama anak dan cucu yang tinggal bersamanya di rumah sederhana.
Belum lama ini, Mak Titi mengalami musibah jatuh dari angkot yang membuat kepalanya bocor. Namun, bukannya menyerah atau beristirahat, beliau tetap memilih kembali berdagang. Katanya dengan lirih, “Kalau saya diam saja, siapa yang mau kasih makan cucu?” kalimat sederhana yang menggambarkan betapa kuatnya tekad seorang ibu dan nenek dalam memperjuangkan keluarganya.
Mak Titi tak pernah menuntut banyak dari hidup. Ia hanya berharap diberi kecukupan untuk bertahan dari hari ke hari. Uang hasil jualan telur asinnya tak pernah cukup, bahkan tak ada sisa untuk ditabung. Setiap rupiah habis untuk kebutuhan makan dan bertahan hidup esok hari. Ia pun tak tahu sampai kapan tubuh tuanya mampu terus menanggung beban ini.
Alhamdulillah, berkat kepedulian para kerabat peduli, Ruang Kita Peduli bersama Ayo Kita Peduli telah menyalurkan bantuan untuk Mak Titi berupa:
-
Paket kebutuhan pokok (sembako),
-
Santunan tunai, serta
-
Bantuan modal usaha warung agar Mak Titi tidak perlu lagi berlelah-lelah berjualan di pinggir jalan.


Bantuan ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dasar, meningkatkan kesejahteraan, dan menunjang keberlangsungan hidup Mak Titi dan keluarganya.
Dengan mata berkaca-kaca, Mak Titi menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah peduli dan berbagi. “Terima kasih sudah ingat orang tua seperti saya,” ucapnya lembut.
Semoga bantuan ini menjadi wasilah kebaikan yang terus mengalir, membawa berkah bagi Mak Titi dan seluruh orang baik yang telah berbagi kasih. 💛
Salam Hangat
Ruang Kita Peduli >< Ayo Kita Peduli







