Di sudut sederhana kehidupannya, Mak Ratna (90) menjalani hari-hari dalam kesunyian. Tanpa suami, tanpa anak, ia hidup sebatang kara, hanya ditemani anabul kesayangannya yang setia menemani di tengah keterbatasan. Meski usia telah renta, semangatnya untuk bertahan hidup tak pernah benar-benar padam.
Setiap pagi, tangan keriput Mak Ratna masih terampil merangkai lidi demi lidi menjadi sapu sederhana. Aktivitas itu seakan menjadi satu-satunya alasan baginya untuk tetap kuat menjalani hidup. Sapu lidi buatannya kemudian ia titipkan atau jual ke warung-warung kecil di sekitar. Namun, dengan harga hanya Rp5.000 per buah, sapu tersebut kerap tidak laku—terlebih di tengah perubahan zaman, di mana banyak orang lebih memilih berbelanja secara online.
Hari-hari Mak Ratna kerap diwarnai rasa sepi dan putus asa. Dalam kondisi ekonomi yang sangat terbatas, ia bahkan sering kali hanya mampu makan nasi dengan garam untuk sekadar bertahan hidup. Kondisi ini mengetuk hati banyak pihak untuk turut hadir memberikan bantuan dan kepedulian.

Sebagai bentuk perhatian dan kasih sayang, telah disalurkan bantuan berupa santunan tunai dan paket sembako untuk Mak Ratna. Bantuan ini diharapkan dapat meringankan beban hidupnya, sekaligus memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari yang selama ini sangat terbatas.
Penyaluran bantuan dilakukan dengan penuh rasa haru. Mak Ratna menyambut dengan mata berkaca-kaca, tak menyangka masih ada yang peduli dengan kondisi yang ia jalani selama ini. Kehadiran bantuan ini bukan hanya soal materi, tetapi juga menjadi penguat bahwa ia tidak sendiri.
Semoga bantuan yang diberikan dapat menjadi penyambung harapan bagi Mak Ratna, serta menghadirkan sedikit kebahagiaan di sisa usianya. Terima kasih kepada seluruh donatur yang telah berbagi rezeki dan kepedulian. Semoga setiap kebaikan yang diberikan menjadi amal yang berlipat ganda dan membawa keberkahan bagi semua.
Salam Hangat
Ruang Kita Peduli >< Temen Baik





