
“Emak dapat 200 perak dari satu gorengan, kalau habis bisa 30 ribu sehari, tapi suka nggak kuat jualan…pusing kalau kelamaan…" cerita emak dengan wajah yang lelah.

Di usia senja yang telah menginjak 84 tahun, Mak Enoh seharusnya menghabiskan hari-harinya untuk beristirahat di rumah. Tapi, realita hidup memaksanya berjuang banting tulang demi bertahan hidup dan mengobati anaknya yang sakit bronkitis.
Setiap hari, punggung membungkuk karena usia dan langkah kaki yang tertatih, Mak harus berjalan kaki seorang diri untuk menjajakan gorengan.

Gorengan yang dibawa Mak Enoh juga bukan miliknya sendiri. Beliau hanya mengambil dagangan orang lain untuk dijual kembali, lalu menyetorkan modalnya setelah selesai berdagang.
Dari setiap gorengan yang berhasil terjual, Mak Enoh hanya dapat untung Rp100 hingga Rp200 saja. Jika dagangannya habis, upah maksimal yang bisa dibawa pulang hanya Rp30.000. Itu pun harus terpotong dengan harga obat anaknya.

Kondisi fisik Mak Enoh sendiri sebenarnya sudah berada di titik kritis. Berlama-lama di bawah terik matahari sering kali membuat kepalanya pusing. Tak hanya itu, penglihatannya juga perlahan mulai jauh berkurang karena salah satu matanya sudah buram dan tidak jelas lagi untuk melihat.
Tak hanya fisik yang sakit, trauma masa lalu saat ditipu orang ketika mencari biaya pengobatan almarhum suaminya pun kian menambah beban psikologis berupa rasa cemas yang terus membayangi setiap langkah Emak.

Mak Enoh tidak meminta kemewahan. Harapan terbesarnya sangat sederhana: ia ingin sekali mengobati matanya yang mulai buta dan membawa anaknya berobat ke rumah sakit secara layak.
Emak tidak punya siapa-siapa lagi yang bisa memberikan bantuan untuknya. Emak hanya berharap ada orang yang cukup peduli dengan keadaan ia dan anaknya.
Teman-teman mari kita berikan kesempatan buat Mak Enoh dan anaknya mendapatkan jaminan kesehatan yang cukup dan masa tua yang lebih layak bagi Mak Enoh dengan cara:


![]()
Belum ada Fundraiser