

Langkahnya pincang, jalannya tertatih. Namun setiap hari Pak Dedek tetap keluar rumah, berkeliling kampung menjajakan buku dan Iqro. Bukan demi dirinya sendiri, melainkan demi anak-anak santri yang menunggu pelajaran dan makanan di pesantren kecil yang ia rawat.


Pa Dedek adalah guru ngaji dengan keterbatasan fisik. Ia tidak memiliki gaji tetap, tidak pula honor bulanan. Penghasilannya bergantung pada dagangan yang laku hari itu. Sering kali, hasil jualannya hanya cukup untuk membeli mie instan yang dimakan bersama para santri.

Di tengah keterbatasan itu, Pa Dedek tetap mengajar tanpa mengeluh. Setiap sore dan malam, ia membimbing anak-anak mengaji, meski tubuhnya sering menahan sakit. Baginya, berhenti mengajar berarti memutus harapan anak-anak untuk terus belajar Al-Qur’an.
“Saya cuma pengen anak-anak tetap biasa ngaji dan makan dengan layak”
Pesantren Al Kausar tempat mereka belajar pun jauh dari kata layak. Atapnya bocor saat hujan, lantainya lembap, dan ruang tidur seadanya. Namun di tempat sederhana itulah, anak-anak tetap menghafal ayat demi ayat dengan semangat yang tak pernah padam
Pak Dedek tidak bisa terus berjuang sendirian. Ia membutuhkan uluran tangan kita agar perjuangan ini tetap bertahan agar anak-anak tetap bisa mengaji, tetap punya tempat belajar, dan tetap memiliki harapan untuk masa depan yang lebih baik.


![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik