
Dengan kaki pendek yang membuatnya berjalan seperti berjongkok, Mang Anan tetap sabar keliling jualan layangan depan Sekolah Dasar dengan beberapa layangan warna-warni hasil tangannya sendiri.
Anak-anak langsung berebut, karena bentuknya sederhana tapi bikin penasaran. Namun, justru di situlah masalah muncul, sebelum sempat terjual, layangan itu sering robek karena direbut ramai-ramai. Harapan Mang Anan untuk pulang bawa uang pun hilang seketika.

Satu layangan sama artinya dengan kehilangan satu-satunya pemasukan. Lebih berat lagi, kondisi fisiknya bukan tanpa tantangan. Salah satu kakinya berukuran pendek, hingga ia berjalan seperti berjongkok, tapi tetap berusaha kuat demi bisa mencari nafkah.
Pekerjaan sebagai pembuat layangan menuntutnya telaten. Dari nyari bambu, menyerut penyangga, sampai ngerakit benang dan kertas, semua dikerjakan dengan penuh kesabaran. Sangat disayangkan, ketika kerja keras dari pagi sampai sore itu hilang dalam hitungan menit hanya karena layangan robek sebelum dibeli.

Meski sering gagal jualan, Mang Anan nggak pernah menyerah. Ia tetap bertekad membuat layangan baru, tapi kalau terus begini, sampai kapan ia bisa bertahan? Kita memang nggak bisa balikin layangan yang rusak, tapi kita bisa bantu Mang Anan supaya nggak pulang dengan tangan kosong lagi.
Di balik layangan yang tampak sepele, ada cerita besar tentang ayah difabel yang nggak pernah berhenti berjuang. Kerabat, Mari bantu pejuang nafkah difabel menafkahi keluarganya dengan layak.

![]()
Belum ada Fundraiser