
...Terlihat jelas ia kelelahan, sebab ia masih harus keliling jualan sampai malam. Semua ia lakukan demi pastikan keluarganya tidak tidur di jalan dan masih bisa makan

Namanya Abdul Latip baru berusia 11 tahun. Di usia ketika anak-anak lain masih menikmati masa bermain dan sekolah, Latip, itu panggilannya justru harus membantu mencari nafkah untuk keluarganya. Sejak ayahnya pergi tanpa kabar, Latip tinggal hanya bersama ibu dan adiknya di sebuah kontrakan sederhana.

Hidup mereka serba kekurangan. Ibunya sering sakit lambung dan sudah kesulitan bekerja. Karena keterbatasan biaya, Latip bahkan harus berhenti sekolah sejak kelas 3 SD.
Sedihnya, saat teman-temannya bisa ikut kegiatan sekolah dan pramuka, Latip hanya bisa melihat karena tak punya seragam yang layak.

Setiap hari Latip keliling menjual basreng, makaroni, mie kering, dan keripik ubi buatan ibunya. Dari satu bungkus yang terjual, keuntungan yang ia dapat hanya sekitar Rp1.000.
Meski sedikit, uang itu dipakai untuk kebutuhan sehari-hari, membantu bayar kontrakan, dan memenuhi kebutuhan adiknya.
“Aku pengen adik tetap sekolah… biar nggak susah kayak aku”

Meski hidup terasa berat, Latip tetap berusaha kuat. Di balik lelahnya jualan sampai malam, ia masih menyimpan harapan sederhana: ingin keluarganya hidup lebih tenang, kontrakan tetap terbayar, dan suatu hari bisa punya sepatu futsal serta jersey timnas impiannya.
Kerabat Peduli, yuk temani perjuangan Latip, Sedikit bantuan dari kita bisa membantu Latip dan keluarganya bertahan melewati hari-hari sulit, menjaga tempat tinggal mereka, dan membantu adiknya tetap sekolah. Semoga harapan kecil Latip untuk melihat keluarganya hidup lebih layak bisa perlahan terwujud


![]()
Belum ada Fundraiser