
Tak semua anak bisa menikmati masa kecilnya dengan utuh. Di saat sebagian anak belajar dan bermain dengan riang, ada yang harus lebih dulu memahami arti bertahan. Keadaan yang terbatas seringkali membuat mereka tumbuh lebih cepat dari seharusnya. Begitulah yang perlahan dijalani Alya, di usianya yang baru 8 tahun


Sejak kepergian sang ibu dan ayah yang tak lagi pulang, Alya tinggal bersama dua kakaknya. Mereka menempati rumah sederhana peninggalan nenek tanpa adanya penghasilan tetap. Dalam keterbatasan itu, Alya dan kakak-kakaknya saling menguatkan. Meski tanpa orang tua, mereka berusaha tetap melanjutkan hari-hari dengan penuh harapan.
Sepulang sekolah, Alya tak langsung beristirahat. Ia berjalan menyusuri jalanan kecil, menawarkan gorengan yang ia jual dengan sistem titipan. Dari hasil jualannya, Alya mendapatkan penghasilan yang sangat terbatas, sekitar 15 ribu rupiah saat dagangannya habis. Uang itu ia gunakan untuk kebutuhan sehari-hari sekaligus perlahan mengejar biaya sekolahnya yang masih tertunda.

Di tengah kondisi tersebut, Alya menyimpan harapan sederhana. Ia berkata pelan,
“Alya hanya ingin terus sekolah dan bisa bantu kakak.” Lirih Alya
Saat ini, Alya masih berjuang memenuhi kebutuhan hidup dan melanjutkan sekolahnya. Keterbatasan membuat langkah kecilnya terasa semakin berat. Kerabat peduli, mari jadi penguat untuk Alya agar ia bisa terus belajar dan memiliki masa depan yang lebih baik


![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik