
”Sedih rasanya kalau lagi jualan, suka keingat anak abah dulu… nitipin cucunya sebelum meninggal,” lirih Abah dengan mata berkaca-kaca.

Abah Mahad ngos-ngosan tarik napas buat minum usai menurunkan pikulannya. Di usianya yang sudah 74 tahun, Abah masih harus memikul gerobak berat berisi jajanan bandros. Nafasnya ngos-ngosan, tubuhnya gemetar, tapi langkahnya tetap ia paksakan demi sesuap nasi untuk keluarga kecilnya.
Sejak subuh Abah berkeliling dari desa ke desa sambil memikul gerobak bandros di pundaknya. Bandros yang ia jual untuknya hanya 250 perak per biji, untung nyaris tak seberapa. Lebih perih lagi, hasil jualan yang tak menentu itu harus mencukupi kebutuhan istri dan dua cucunya yang telah yatim.

Cucu pertama Abah sudah ia asuh sejak bayi, dititipkan almarhum anaknya sebelum pergi untuk selamanya. Cucu kedua pun kini ikut bergantung hidup pada Abah karena ibunya meninggal. Abah Mahad kini menjadi satu-satunya sandaran hidup bagi kedua cucu yatimnya.
Meski tubuh tuanya sering pegal, sendi-sendinya sakit, dan nafasnya pendek karena beban gerobak yang berat, Abah Mahad tak punya pilihan lain. Beliau sadar, jika berhenti berjualan, maka cucu-cucunya akan kesulitan sekolah dan kehilangan harapan masa depan. Namun, kalau terus begini, tubuh Abah bisa tumbang kapan saja di jalan. Siapa yang akan menopang keluarga kecil ini jika Abah tak lagi mampu berjalan?

Kerabat, yuk saling bantu kita ringankan langkah Abah Mahad. Mari kita bantu beliau agar tidak lagi harus memikul beban seberat itu seorang diri.

![]()
Belum ada Fundraiser