ImageDampingi Anak Yatim Pejuang Rupiah Lewati Masa Sul...
Image

Dampingi Anak Yatim Pejuang Rupiah Lewati Masa Sulitnya

Rp 121.042.824 terkumpul dari Rp 130.000.000
2066 Donasi sudah berakhir

Penggalang Dana

Image

Kemiskinan menjadi salah satu faktor yang membuat anak-anak tak bisa menikmati masa tumbuh kembangnya. Ketika anak seharusnya bisa dengan leluasa menerka-nerka dunianya lewat bermain dan belajar, kondisi ekonomi yang mencekik mengharuskan mereka untuk melewatkan masa-masa tersebut dan menempatkan anak pada peran yang tak semestinya dilakukan di usianya, yaitu bekerja untuk memperjuangkan nafkah sehari-hari. Seperti kisah Mutia (9 th) yang harus menjadi ‘dewasa’ sebelum waktunya.

Sejak ayahnya meninggal dunia karena penyakit paru-paru, hidup Mutia yang saat itu masih 7 tahun berputar balik dengan cepat. Ia tak punya waktu untuk berduka lantaran harus segera menopang ekonomi keluarga yang hendak runtuh. Sejak saat itu Mutia tak lagi menjadi tanggungan nafkah melainkan menjadi pencari nafkah.

Mutia memulai harinya dengan berjualan aneka kue basah keliling dengan berjalan kaki sejak subuh hingga jam masuk sekolah. Kembali dilanjut Setelah pulang sekolah hingga pukul 9 malam. Mutia bahkan sempat berjualan selama jam istirahat di sekolahnya, namun hal tersebut tak ia lanjutkan karena muncul ejekan dari teman-teman seusianya. 

Sudah 2 tahun lamanya rutinitas tersebut dijalankan Mutia tanpa banyak berkeluh kesah. Pasalnya hingga kini keluarganya dilanda berbagai kesulitan, Sang ibu tiba-tiba menderita sakit yang mengharuskannya dirawat di rumah sakit. Tanpa memiliki dana darurat, Mutia harus mengumpulkan biaya berobat lewat penjualannya. Kebutuhan sehari-hari terpaksa disisihkan terlebih dahulu.

Hal ini pun membuat Mutia terpaksa menunggak pembayaran kontrakan. Bukannya dimaklumi atas kondisinya, Mutia justru menerima ancaman akan diusir dari kontrakannya!

Terbayang-bayang dengan ancaman dan tagihan rumah sakit yang belum terbayar, Mutia terpaksa melewatkan sekolah agar bisa terus berjualan. Sepanjang berjualan, ia dipenuhi rasa takut dan khawatir sendirian. Ia tak ingin mengecewakan keluarga kecilnya bila harus sampai kehilangan tempat berlindung di tengah-tengah kesulitannya.

Kerabat, Mutia yang seharusnya fokus belajar dan bermain justru harus mengemban tanggung jawab yang begitu besar. Cerita tersebut juga tak hanya dialami oleh Mutia saja. Masih banyak Anak pejuang nafkah lain yang dihadapkan dengan kondisi serupa. Mereka sangat memerlukan uluran tanganmu, jangan biarkan berjuang sendirian! Kirimkan donasi terbaikmu dengan cara:

Terima kasih,

Ruang Kita Peduli

___

Ikuti update aktivitas program ini melalui :

Instagram, Tiktok, Facebook: @ruangkitapeduli

Website: ruangkitapeduli.org

Baca selengkapnya ▾

  • April, 30 2025

    Campaign is published

Kerabat Peduli4 bulan yang lalu
Berdonasi sebesar Rp 29.199
Ibrani syafei4 bulan yang lalu
Berdonasi sebesar Rp 30.820
amy Amy4 bulan yang lalu
Berdonasi sebesar Rp 25.740
Islimiyati Solikhin4 bulan yang lalu
Berdonasi sebesar Rp 20.708
Muhammad suhada4 bulan yang lalu
Berdonasi sebesar Rp 500.683

Fundraiser

Belum ada Fundraiser

Mari jadi Fundraiser dan berikan manfaat bagi program ini.

Doa-doa orang baik (670)

Kerabat Peduli4 bulan yang lalu
Bismillah jadi anak pintar lancar rejekinya dan selalu dimudahkan urusannya
Image
Aaminn-kan doa ini
+1
HA5 bulan yang lalu
Ya Allah jdkan anak kami anak yg sholeha, tdk melakukan yg engkau larang dan selalu dalam lindunganMu, tercapai yg mereka cita2kan, mendapat jodoh sholeh
Image
1 Aaminn
+1
Kerabat Peduli5 bulan yang lalu
Semoga tetep sabar Dan kuat ya dek
Image
1 Aaminn
+1
Dom5 bulan yang lalu
Sehat banyak rejeki dan berkah dunia akherat. Aamiin
Image
1 Aaminn
+1
Ricky5 bulan yang lalu
Semoca allah lancarkan segalaa usaha, dan segera allah berikan keturunan
Image
2 Aaminn
+1
Bagikan melalui:
✕ Close
Perlu bantuan, hubungi Admin!