Garut, 10 Juni 2025 — Hidup dalam keterbatasan fisik tak pernah menyurutkan semangat Mang Agus (40 tahun) dan adiknya, Mang Deden (37 tahun), untuk mencari nafkah secara mandiri. Dua kakak beradik ini sama-sama menyandang disabilitas ganda akibat kerusakan saraf yang menyebabkan kelumpuhan sebagian tubuh, serta gangguan otot yang membuat tangan dan kaki mereka terus gemetar tak terkendali.
Meski kondisi fisik mereka jauh dari kata ideal, Mang Agus dan Mang Deden tetap memilih untuk bekerja secara mandiri. Setiap hari, dengan tubuh yang gemetar dan langkah yang tak stabil, mereka menjajakan pisang keliling dari rumah ke rumah, menyusuri jalanan kampung dengan sekuat tenaga. Penghasilan yang diperoleh pun sangat terbatas, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan harian mereka secara sederhana.
Kondisi tempat tinggal Mang Agus dan Mang Deden pun tidak kalah memprihatinkan. Rumah yang mereka huni bersama adalah bangunan semi permanen yang sudah lama rusak di beberapa bagian. Atap bocor, dinding rapuh, dan lantai yang tidak layak huni membuat keduanya tinggal dalam situasi yang jauh dari kata aman dan nyaman.
Melihat kondisi tersebut, hasil patungan dari #KerabatPeduli semua disalurkan dalam bentuk bantuan renovasi rumah bagi Mang Agus dan Mang Deden. Renovasi mencakup perbaikan atap, penguatan dinding, pemasangan lantai semen, serta penyesuaian fasilitas rumah agar lebih ramah bagi penyandang disabilitas.
Penyaluran bantuan dilakukan secara gotong royong dengan melibatkan warga sekitar, tukang bangunan lokal, dan donasi dari para dermawan. Proses pembangunan telah berjalan selama 2 minggu, dan terus berlangsung hingga hari ini.
“Kami nggak nyangka akan dapat rumah yang lebih layak begini. Terima kasih banyak untuk semua yang sudah membantu kami. Semoga dibalas Allah,” ungkap Mang Agus dengan mata berkaca-kaca.

Bantuan ini tidak hanya menghadirkan tempat tinggal yang lebih aman dan sehat bagi Mang Agus dan Mang Deden, tetapi juga menjadi simbol bahwa kepedulian sosial masih hidup di tengah masyarakat. Keteguhan dua kakak beradik ini dalam menghadapi hidup adalah pelajaran tentang semangat, kemandirian, dan rasa syukur di tengah keterbatasan.
Semoga kisah ini menginspirasi lebih banyak orang untuk berbagi, karena dari kepedulian kecil kita, bisa tumbuh harapan besar bagi mereka yang berjuang dalam diam.
Salam Hangat
Ruang Kita Peduli >< Salam Mukti Abadi









