“Zaman sekarang semua serba mahal. Banyak kebutuhan yang belum tercukupi, jadi mau gak mau Abah harus bantu keperluan dua cucu yang telah yatim...” ucap Abah Ocim.

Idealnya, masa tua menjadi masa-masa bagi para lansia agar dapat menikmati kehidupan yang menenangkan dengan berdiam diri di rumah. Namun, kondisi ideal tersebut sulit diraih tanpa dukungan finansial yang mencukupi.
Salah satunya seperti kisah Abah Ocim (75 th) yang di usia senjanya masih memilih berjualan jantung pisang, barang yang kurang familiar untuk dijual. Baginya, persaingan dalam berdagang sudah sangat ketat di Sumedang sehingga menjual barang yang sepi pesaing menjadi salah satu jalan yang ia tempuh untuk tetap mencari nafkah.

Sudah selama puluhan tahun Abah Ocim melakoni pekerjaan ini. Jantung pisang yang dijual diperoleh dari kebun milik warga di kampungnya yang mempersilakan Abah Ocim untuk menjualnya. Kondisi Abah pun sudah tak prima lantaran dirinya pernah tertabrak kendaraan dan buat kakinya pincang ketika berjalan. Hal tersebut tak menyurutkan perjuangan Abah.
Bila beruntung, dalam sehari Abah bisa menjual 3-5 buah jantung pisang. Namun seringnya, Abah mendapati jualannya tak laku sama sekali. Abah sampai rela menjual jantung pisangnya dengan dibayar seikhlasnya dari pembeli.
”Kalau belum kejual semua, Abah mah gak pernah pulang ke rumah, biasa tidur di jalan sampai jualan Abah habis,” ujar Abah Ocim.

Meski kedinginan dan kondisi kesehatannya kerap menurun, ia tetap bersikeras berjualan. Yang penting baginya ia dapat membawa pulang uang untuk keluarga. Abah baru akan pulang ketika jantung pisang yang tak laku sudah dalam kondisi membusuk dan dengan berat hati menghentikan perjuangannya.
Menurut Abah Ocim, dulunya jantung pisang ini mudah sekali untuk laku terjual. Tapi seiring berkembangnya zaman, sudah jarang yang mengetahui khasiat dari jantung pisang dan berangsur membuat dagangan Abah sulit laku.

Perjuangan Abah Ocim tetap berjualan di masa tuanya didasari rasa sayangnya pada kedua cucunya. Ayah dari cucu Abah Ocim telah meninggal dunia, sedangkan ibunya bekerja merantau sebagai ART dengan penghasilan yang terbatas.
Dengan penghasilan Abah Ocim yang tak menentu, Abah kerap ragu. Bisakah ia menggapai keinginannya tersebut? Dari lubuk hatinya, Abah Ocim ingin sekali membuka warung di rumahnya dan memiliki alat penunjang untuk mengolah jantung pisang agar ia pun dapat menjual jantung pisang yang telah dimasak dan membuat jualannya pun dapat lebih variatif.
Kerabat, perjuangan Abah Ocim yang tak kenal lelah di usia senjanya sangat perlu dukunganmu! Yuk, bersama-sama ulurkan tanganmu untuk membuat impian Abah Ocim menjadi kenyataan agar beliau bisa merasakan hidup layak di masa tuanya.

Terima Kasih,
Ruang Kita Peduli
___
Ikuti update aktivitas program ini melalui:
Instagram & Facebook: @ruangkitapeduli
Website: ruangkitapeduli.org
Baca selengkapnya ▾