

Jika Hujan, Air Pancuran berubah menjadi keruh namun ketika kemarau, anak-anak jalan jauh demi bisa mengambil air tuk bersuci. Itupun, terpaksa berebut giliran dengan warga sekitar!

Kondisi tersebut sehari-hari dialami oleh 50 Santri Baitul Jannah di daerah perbukitan serai wangi tepatnya Kp. Pangragajian Rt 02 Rw 18 Desa Sirnajaya, Kec. Gunung Halu Kab. Bandung Barat.

Masjid Baitul Jannah sudah puluhan tahun belum memiliki sarana wudhu atau MCK layak. Mirisnya Air yang digunakan untuk bersuci merupakan air pancuran dari sungai yang ketika hujan tiba warnanya berubah menjadi kecoklatan. Tak jarang tubuh mereka jadi sering gatal-gatal karena air keruh tersebut.
Tak ada pilihan lain sebab inilah satu-satunya tempat wudhu yang mereka miliki. Ketika hendak melaksanakan shalat dan mengaji puluhan anak santri ini harus membuat barisan, dan mengantri diatas tanah licin dan berlumut.

Agar tak terlewat shalat berjamaah, kerap kali anak-anak saling berdesakan dalam bangunan kayu reyot berukuran 1x1 untuk bisa mengambil air wudhu.
Paling pilu, ada saja santri yang terpeleset dan jatuh kedalam kubangan kolam kotor akibat licinnya batang bambu yang mereka pijak.

Di saat musim kemarau tiba, air pancuran mengering dan membuat anak-anak santri terpaksa turun menuju mata air yang jaraknya 7-9 Kilo dari masjid.
Beberapa diantara mereka kerap membawa ember dan derigen kosong untuk nantinya digunakan di pengajian malam hari. Naas air yang dibawa sering kali kurang dan membuat mereka harus berhemat gunakan air tuk bersuci.

Anak-anak memiliki harapan besar untuk memperoleh tempat wudhu yang lebih baik dan MCK yang layak sehingga mereka tak perlu susah-susah berjalan menuju sumber air disetiap hari.
Maukah kamu Ikut membantu pembangunan fasilitas wudhu layak bagi para santri dhuafa dipelosok Gununghalu, Bandung Barat?
Yuk berikan sedekah terbaikmu dengan cara:

Terima kasih,
Ruang Kita Peduli
___
Ikuti update aktivitas program ini melalui :
Instagram & Facebook: @ruangkitapeduli
website: ruangkitapeduli.org