


Namanya Abah Emed (74), penjual ayakan keliling yang kini hidup sebatang kara. Tubuhnya telah membungkuk, pendengarannya pun mulai memudar. Tapi ia tetap berkeliling kampung, membawa dagangan buatan tangannya sendiri.
Setiap tiga hari sekali, Abah menganyam ayakan dari bambu. Dalam semalam, ia bisa begadang hingga dini hari untuk menyelesaikannya. Tapi dari itu semua, penghasilan yang didapat hanya sekitar 5 hingga 10 ribu rupiah saja.
Akibatnya jika lapar, Abah hanya bisa ganjal dengan pisang dan air putih. Tak jarang juga ia duduk di pinggir jalan, sambil memijat kakinya yang nyeri.

Selain berjualan, Abah juga seorang marbot. Mulai dari mengumandangkan adzan tepat waktu, bersih-bersih masjid semua ia lakukan tanpa pernah berharap bayaran. “Saya ikhlas. Karena ini kebaikan,” ucapnya lirih.
Orang baik, adzannya selalu terdengar tapi siapa yang mendengar jerit hatinya? Di usianya yang senja, Abah Emed tak butuh banyak hanya butuh sedikit uluran agar bisa bertahan dan tak lagi kelaparan.


![]()
Belum ada Fundraiser