"Bagi pejuang jalanan, dekat dengan kematian Itu biasa tapi menyerah Itu bukan pilihan..."

Di tengah hiruk pikuk jalanan, tubuh renta Abah Mawi tergeletak tak sadarkan diri. Orang-orang mengira ia sudah tiada. Ia baru saja keserempet bus saat mendorong gerobaknya. Tapi ternyata, Tuhan belum selesai dengan kisahnya. Abah Mawi (71 tahun) kembali membuka mata, berdiri perlahan, dan percaya atau tidak kembali berjualan keesokan harinya. Bukan karena tidak ada rasa sakit, tapi karena hidup tetap harus berjalan.

Meski bicaranya kadang tak jelas karena usia dan luka lama, niatnya selalu tegas bertahan hidup dengan sekuat tenaga. Abah Mawi pernah ditipu hingga kehilangan modal 500 ribu, jumlah yang sangat besar baginya. Ia juga pernah mengalami luka cukup serius karena kecelakaan. Tapi tak satu pun membuatnya menyerah. Bahkan setelah tubuhnya terpental, ia tetap memilih berjualan keesokan harinya. "Kalau saya berhenti, dapur kami juga berhenti," katanya

Saat ini Abah Mawi masih menarik gerobaknya di pinggir jalan, menahan pegal, menahan kantuk, menahan lapar. Bagi Abah, tidak ada kata “pensiun”. Hidup harus terus dilawan.
Abah Mawi sudah lebih dari 40 tahun berjalan kaki dari Ciasem, Subang ke Karawang lebih dari 30 kilometer setiap hari. Dengan gerobak tua dan langkah gontai, ia mengais rezeki yang hanya menghasilkan sekitar 30 ribu per hari. Di rumah, ia tinggal bersama istri tercinta dan kehidupannya bergantung pada langkah-langkah lemah Abah.

Coba perhatikan langkah Abah Mawi lebih dekat. Kalau kamu bisa bantu, jangan tunda. Klik tombol bantu sekarang. Satu klik kecil darimu, bisa jadi langkah besar untuk Abah kembali pulang dengan selamat.


Terima kasih,
Ruang Kita Peduli
___
Ikuti update aktivitas program ini melalui :
Instagram, Tiktok, Facebook: @ruangkitapeduli
Website: ruangkitapeduli.org
Baca selengkapnya ▾