
20 tahun hidup sebatang kara menahan rindu yang tak terbalas, Abah Mamad terpaksa harus terus berjalan memeluk rasa lapar dan sakit tumor di kepalanya yang kian membesar.

Di usia 65 tahun, Abah Mamad masih harus memikul gerobak keliling kampung menjual es nongnong milik orang lain.
Penghasilan yang ia dapatkan dari sistem bagi hasil ini sangat kecil dan sering kali tidak menentu. Meskipun tubuh rentanya sudah sering melemah, Abah tetap memaksa kakinya terus berjalan demi bisa makan hari itu.

Kenyataan hidup Abah terasa semakin memilukan karena ia harus melewati masa tuanya seorang diri tanpa keluarga.
Anak kandung yang teramat ia rindukan sudah 20 tahun pergi merantau tanpa pernah memberi kabar atau menjenguknya lagi. Kini, Abah hanya bisa menumpang hidup di sebuah gubuk reot milik tetangganya sekadar untuk berlindung dari hujan.
Ketika dagangan esnya sepi pembeli, ancaman kelaparan langsung menjadi kenyataan pahit bagi Abah. Ia pernah terpaksa harus menahan lapar selama tiga hari berturut-turut karena kantongnya bener-bener kosong tidak memegang uang.

Penderitaannya kian bertambah karena ada benjolan diduga tumor di jidat dan lehernya yang terus membesar tanpa pernah diobati.
“Abah gak mau ngemis, selama masih bisa jalan Abah akan terus jualan es. Harapan Abah cuma pengen bisa makan tiap hari dan punya biaya buat berobat,” ucap Abah Mamad lirih.
Kalimat tegar itu diucapkan Abah sambil sesekali menyeka keringat di wajahnya yang mulai keriput. Di balik ketegarannya, ada gurat lelah mendalam dari seorang lansia yang harus menanggung semua beban hidup sendirian.

Ya Allah, Abah Mamad tidak sepantasnya menjalani masa tua seberat, sesakit, dan sesunyi ini sendirian. Ruang Kita Peduli mengajak teman-teman semua untuk ikut mengulurkan tangan dan meringankan beban hidup yang dipikul Abah.
Yuk, sisihkan sedikit rezeki terbaik kita hari ini agar Abah Mamad bisa segera berobat dan hidup lebih layak.


![]()
Belum ada Fundraiser