

Setiap pagi ia menyalakan motornya, berkeliling mencari penumpang dengan penghasilan yang tak menentu. Hujan, panas, hingga sepi orderan tidak membuat langkahnya goyah. Sebab bukan demi dirinya, melainkan demi santri-santri Yatim yang ia asuh

Pak Asep bukan orang berada, hanya ojek kampung yang menyisihkan receh demi receh untuk memenuhi kebutuhan santri. Tak ada donatur tetap, sehingga jika hari itu tak ada penumpang, dapur pesantren pun ikut sepi tanpa kepastian. Pernah mereka hanya makan nasi dengan garam, namun tak satupun santrinya mengeluh atas keadaan itu

Selain mencari nafkah, Pak Asep juga menjadi guru bagi anak-anak yatim yang ia asuh. Setiap sore dan malam, Pak Asep dan para santrinya belajar Al-Qur’an. Meski lelah, tak masalah baginya yang penting para santri tetap mendapatkan pendidikan agama yang layak
“Saya cuma ingin mereka tetap bisa ngaji dan tidak tidur dalam keadaan lapar” ucapnya lirih.
Pesantren kecil itu berdiri dari kayu dan dinding sederhana yang jauh dari kata layak. Saat hujan turun atapnya bocor, lantainya masih tanah di beberapa bagian, dan tikar tipis menjadi alas tidur bersama. Namun dari tempat yang serba terbatas itulah, lantunan ayat suci tetap terdengar setiap malam tanpa pernah padam.

Pak Asep telah menjadi pondasi bagi pesantren dan anak-anak yatim itu. Ia tak hanya memberi mereka ilmu, tapi juga makan, perhatian, dan kasih sayang seorang ayah. Namun pondasi itu kini mulai rapuh oleh beban yang terlalu berat dipikul sendiri. Mari hadirkan kepedulian kita. Bantu Pak Asep agar pesantren kecil itu tetap berdiri, dan anak-anak yatim tetap punya masa depan yang lebih baik


![]()
Belum ada Fundraiser