

Abah Dadang, seorang tukang servis elektronik yang telah menjajakan jasanya selama ± 25 tahun, kini berjuang di kondisi yang jauh dari ideal. Tubuhnya tak sempurna, berjalan bukan dengan kaki normal, melainkan dengan mengesot menggunakan tangan dan lutut di atas aspal untuk mendapatkan pesanan servis di sepanjang ± 8 km tiap hari.

Tas kecil tergantung di punggungnya sebagai “perlengkapan” harian alat servis seadanya dan harapan besar agar ada barang elektronik yang bisa diperbaiki dan ditebus oleh pelanggan. Namun kenyataannya, rata-rata hanya 2 orderan yang masuk dalam satu pekan.
Kondisi fisik Abah makin berat, mata kirinya mulai kabur karena katarak, pendengarannya melemah, dan lututnya sering terluka karena menggesek aspal. Tapi Abah tetap sabar dan ikhlas menahan sakit demi keluarga meski penghasilan hanya sekitar Rp 60.000 per minggu, tidak cukup untuk kebutuhan dasar rumah tangga, apalagi menabung atau memperbaiki alat-alatnya.

Abah punya satu harapan kecil yang besar, ia ingin punya alat servis yang lebih lengkap, agar bisa memperbaiki barang elektronik pelanggan dengan hasil lebih baik dan tak kehilangan kepercayaan mereka. Dengan hal tersebut, Abah bisa memperbanyak orderan dan meningkatkan penghasilan, tanpa harus terus menanggung rugi karena kekurangan spare part.
Ia hanya ingin tetap mandiri, bisa bekerja dengan tenaganya sendiri, tanpa harus bergantung pada belas kasih orang lain. Kerabat, yuk bantu abah dadang punya alat biar bisa terus mencari nafkah.

![]()
Belum ada Fundraiser