

Di usia yang semakin senja, tubuh Abah Bukhori sebenarnya sudah meminta untuk berhenti. Dadanya sering terasa sesak, penglihatannya mulai kabur karena katarak, dan kakinya pun kerap sakit saat digunakan berjalan. Namun setiap hari Abah tetap memaksakan diri berjualan cilok demi mendapatkan penghasilan.
Abah berjualan cilok di depan sekolah dan berharap ada anak-anak yang membeli dagangannya. Sayangnya, tidak setiap hari dagangan Abah laris, bahkan sering kali masih banyak cilok yang tersisa. Belum lagi kompor yang digunakan untuk berjualan juga sering rusak, padahal tanpa kompor Abah tidak bisa membuat dan menjajakan ciloknya.

Yang membuat keadaan Abah semakin berat, di rumah ada sang istri yang juga mulai sakit-sakitan. Abah harus memikirkan uang untuk makan sekaligus kebutuhan berobat istrinya, sementara penghasilannya sendiri tidak menentu. Karena itu, meski tubuhnya sakit, Abah tetap berusaha keluar rumah dan berjualan.
“Istri di rumah lagi sakit, Abah harus bawa uang buat makan sama berobat,” ucap Abah.
Abah tetap memaksakan diri bekerja meski tubuhnya sudah tidak sekuat dulu. Di saat dagangan belum tentu laku dan kompor untuk berjualan pun sering bermasalah, Abah tetap berusaha mencari penghasilan karena ada istrinya yang menunggu di rumah.

Setiap kali Abah membawa dagangan, ia sebenarnya sedang melawan tubuhnya sendiri demi membawa pulang sedikit penghasilan. Ia tidak meminta hidup mewah, Abah hanya ingin dirinya dan sang istri tetap bisa makan dan menjalani hari tanpa terlalu cemas memikirkan kebutuhan berikutnya.
Yuk, bantu Abah Bukhori agar perjuangannya tidak harus ia jalani sendirian dan kebutuhan mereka tetap bisa terpenuhi.

![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik