
Di usianya yang baru 14 tahun, Tari seharusnya sibuk belajar, bermain, dan bercita-cita. Namun hidup memaksanya tumbuh lebih cepat.

Sejak ayahnya tiada dan ibunya terserang stroke, Tari menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga. Dengan kondisi sebagai anak difabel, Tari tak menyerah. Setiap hari, sepulang sekolah, bahkan sering masih mengenakan seragam yang belum sempat diganti, ia menenteng tas merah berisi keripik dagangan.

Dengan bertumpu pada lututnya, Tari melangkah menuju tempat-tempat ramai. Ia berjualan keliling, berharap hari itu ada rezeki untuk membeli obat dan membayar perawatan ibunya.

Namun kenyataan tak selalu berpihak. Tak jarang Tari pulang dengan tas yang masih penuh, tanpa penghasilan sepeser pun. Sementara di rumah, ibunya semakin membutuhkan perawatan medis yang tak bisa ditunda.
Tari lelah, Tari kewalahan, Tapi Tari tetap bertahan.

Hari ini, Tari tidak seharusnya berjuang sendirian. Mari kita jadi alasan Tari tetap kuat.
Uluran tangan kita bisa membantu biaya perawatan ibunya, kebutuhan sehari-hari, dan memastikan Tari tetap bisa melanjutkan sekolah tanpa harus mengorbankan masa kecilnya.
💙 #KerabatPeduli, yuk bantuin Dek Tari lewatin masa sulitnya. Sekecil apa pun bantuanmu, berarti besar untuk masa depan Tari dan ibunya.
🙏 Bersama, kita bisa ringankan langkah kecil yang selama ini terlalu berat ia pikul sendiri.

