
“Lagi jualan makaroni kak sambil ngebadut…ini jual 5 ribu aja" Jawab Rehan saat ditanya kenapa duduk di pinggir jalan

Di usia yang baru menginjak 11 tahun, Rehan harus memikul beban sebagai tulang punggung keluarga. Menjadi yatim sejak usia satu tahun Rehan tumbuh besar dengan kakek dan neneknya. Mereka tinggal di sebuah rumah petak sempit milik majikan kakeknya.
Rehan nggak tega melihat neneknya yang sudah renta harus banting tulang di usia senja demi menyekolahkannya. Rehan pun terpaksa putus sekolah saat kelas 4 SD agar bisa bekerja penuh waktu demi membantu perekonomian keluarga.

Sejak kecil, ia sudah mulai berkeliling menjajakan makaroni dari pagi hingga malam hari. Jika modal dagangnya belum ada yang terjual, Rehan berjualan sambil menjadi badut jalanan meski hasil yang diterima sangat minim setelah dipotong biaya sewa kostum.
Di jalanan, saat perutnya sudah tak tertahankan namun dagangannya sepi, Rehan terpaksa makan makaroni jualan miliknya sendiri hanya agar bisa terus melangkah. Tak hanya itu, ia juga membantu kakeknya mencari rumput dengan upah hanya Rp5.000 per hari.

Meski hidupnya penuh kepahitan dan pernah diperlakukan tidak adil, Rehan tumbuh menjadi anak yang luar biasa berbakti. Ia tidak pernah mengeluh meski masa bermainnya hilang ditelan kerasnya jalanan.
Hari ini, kita berkesempatan mengembalikan hak Rehan untuk tumbuh seperti anak-anak lain. Rehan membutuhkan bantuan segera untuk mencukupi kebutuhan pangan keluarganya, serta dukungan agar ia bisa kembali bersekolah mengejar cita-citanya.
Mari kita bersama-sama mewujudkan mimpi adek kecil berhati mulia ini.


![]()
Belum ada Fundraiser