
“Ayah… tolong, Reza pengen sembuh…” kalimat itu menancap dalam di hati Pak Ujang.
Di pundaknya bukan hanya beban gerobak cimol, tapi juga dua nyawa yang ia jaga di rumah. Di satu sisi ada Reza, anak 14 tahun yang lehernya membengkak karena kanker kelenjar. Di sisi lain, ibunya yang sudah renta hanya bisa ngesot ke kamar mandi.

Setiap hari Pak Ujang berkeliling dari gang ke gang menjajakan cimol. Kadang, hujan datang sebelum waktunya, membuat cimolnya lembek dan tak laku dijual.
Tapi meski tahu hasilnya kecil, ia tak punya pilihan lain. “Kalau nggak jualan, nggak bisa beli obat buat Reza,” katanya. Saat Reza harus kontrol ke rumah sakit, Pak Ujang rela tak berjualan, walau berarti tak ada uang sama sekali hari itu.

Di sela lelahnya, ia sering memandang Reza yang meringis menahan nyeri di lehernya. Kadang ia hanya bisa menatap anaknya lama tanpa kata. Ia tahu, Reza sudah berhenti sekolah sejak kelas 2 SMP karena sakitnya makin parah. Tapi tak sekalipun Pak Ujang mengeluh.
Di tengah keterbatasan, satu harapannya sederhana: punya usaha kecil di depan rumah. “Biar bisa tetap jaga anak sama ibu, nggak perlu ninggalin rumah,” katanya, suaranya lirih tapi penuh tekad.

Malam hari, setelah seharian keliling kampung, tubuhnya sering kelelahan. Tapi sebelum rebahan, ia masih harus bantu ibunya yang kesulitan berjalan. Kadang, ia terpaksa tidur di lantai dekat tempat tidur Reza agar mudah menolong jika anaknya terbangun karena sakit.
Di tengah sunyi, ia berdoa dalam hati, “Ya Allah, kasih saya kekuatan. Jangan ambil mereka sebelum saya bisa bikin mereka bahagia.” Tak ada yang tahu betapa kerasnya perjuangan ayah 52 tahun ini menahan air mata di balik senyum sabarnya.
Kerabat, Yuk bantu Pak Ujang memiliki usaha kecil di depan rumahnya, agar ia tak perlu lagi memikul gerobak cimol setiap hari:

![]()
Belum ada Fundraiser