
Malu rasanya masih sering mengeluh, sementara diluar sana masih banyak orang yang hidupnya jauh lebih sulit, tetapi tetap memilih berjuang tanpa banyak mengeluh. Salah satunya Pak Rohmat

Di usia 45 tahun, Pak Abdurrohmat (Rohmat) tetap berjalan puluhan kilometer untuk menjajakan roti goreng dan donat. Dengan satu kaki yang masih berfungsi, ia mengandalkan tongkat untuk menopang tubuhnya selama berjualan. Meski setiap langkah terasa berat, Pak Rohmat tetap keluar rumah karena hanya dengan berjualan ia bisa mendapatkan penghasilan untuk bertahan hidup. Tongkat menjadi satu-satunya tumpuan Pak Rohmat saat berjalan dan berjualan dari satu tempat ke tempat lain. Karena terus menahan beban tubuh, tangannya sering terasa sakit hingga ia harus menggunakan sarung tangan untuk menguranginya. Bahkan, sandal yang dipakainya harus ia rakit sendiri agar tetap nyaman saat digunakan berjalan di atas panasnya aspal.

Roti goreng dan donat yang dijual Pak Rohmat bukan miliknya sendiri, melainkan titipan untuk dijual kembali. Dari setiap roti yang terjual, ia hanya mendapatkan upah Rp500. Ketika dagangannya tidak habis, terkadang roti yang seharusnya dijual harus ia makan sendiri untuk mengganjal perut. Pak Rohmat kini tinggal menumpang di kontrakan milik saudaranya setelah kedua orang tuanya meninggal. Meski penghasilannya tidak menentu, ia tetap berusaha menyisihkan sedikit demi sedikit untuk membeli kaki palsu. Sebuah keinginan sederhana yang ingin ia wujudkan agar bisa berjalan dengan lebih mudah.
“Rencananya mau beli kaki palsu, Mas… biar bisa jalan lebih mudah.”

Pak Rohmat sudah terbiasa berjalan jauh, menahan sakit, dan bekerja dengan penghasilan yang sangat terbatas. Namun, perjuangan itu tidak harus selalu ia jalani sendirian. Yuk, bantu Pak Rohmat mewujudkan impiannya memiliki kaki palsu agar langkahnya lebih mudah dan perjuangannya untuk menyambung hidup bisa sedikit lebih ringan. Mari hadir untuk Pak Rohmat melalui Ruang Kita Peduli.

![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik