
Seharusnya ditolong, Pak Odih justru berdiri di barisan penolong. Di tengah lumpur dan sisa banjir bandang, pria 60 tahun ini memilih membantu warga lain dengan keahlian yang ia punya, memijat tubuh mereka yang pegal dan kelelahan. Padahal, dirinya sendiri baru saja kehilangan hampir segalanya.

Banjir datang tanpa kompromi. Sore itu, saat Pak Odih sedang bekerja di kebun, hujan deras berubah menjadi air bah yang menerjang pemukiman seperti tsunami. Sungai Cisolok meluap, longsor terjadi di beberapa titik. Dalam hitungan menit, air menghancurkan rumah-rumah warga.
Demi menyelamatkan diri, Pak Odih memanjat pohon kelapa dan bertahan hampir 2 jam, tubuhnya gemetar, pikirannya hanya satu, istri dan anak-anaknya di rumah.

Saat air surut, ia pulang dengan langkah tertatih. Namun yang ia temui hanyalah puing. Rumah yang dibangun dengan jerih payah selama 13 tahun runtuh, dinding jebol, perabotan hanyut, kamar mandi hancur.
Bukan hanya rumah, mata pencahariannya pun ikut tersapu banjir. Tidak bisa lagi jualan pisang, alat-alat sederhana tak tersisa. Anak yang masih sekolah terpaksa berhenti sementara karena buku dan seragam ikut hanyut.

Bu Juherti, sang istri, kini hidup dalam kecemasan yang sama. Setiap hujan turun, air menetes dari atap yang bocor, tak ada sudut rumah yang benar-benar kering karena mereka tidur di terpal seadanya. Untuk mandi dan minum, mereka menampung air hujan. Untuk buang air, mereka terpaksa ke kali.
Di malam hari, dingin menusuk tulang, dan tidur menjadi perjuangan. Meski begitu, Pak Odih tetap memijat warga yang membutuhkan, dibayar seadanya demi anak istri bisa makan hari ini.
Kerabat,yuk bantu Pak Odih melewati masa sulit pasca banjir ini. Sedikit dari kita, sangat berarti untuk kelanjutan hidup mereka.
![]()
Belum ada Fundraiser