
“Maafin kakak ya, Dek, hari ini kita ganjal lapar pakai air putih dulu” Maryam
Kata-kata itu terus terlontar dari mulut kecil Siti Maryam, atau yang biasa disapa Maryam, karena ia merasa belum bisa memberikan kehidupan yang layak untuk sang adik.
Maklum saja, sejak ibunya meninggal, ditambah ayahnya mengalami gangguan jiwa dan kini tak jelas keberadaannya, Maryam sebagai anak tertua lah yang memikul tanggung jawab atas keluarga yang ditinggalkan

Di usia yang seharusnya penuh tawa, Maryam (10 th) justru menjelma jadi tulang punggung keluarga. Ia menjadi satu-satunya sandaran bagi adik juga sang nenek. Tak ada pilihan lain, selain bertahan dengan keadaan ini.
Setiap hari sepulang sekolah, Maryam berjualan cilok keliling. Ia berjalan cukup jauh ditemani adiknya demi mendapatkan uang. Upahnya hanya Rp500 per bungkus yang berhasil terjual.

Tentu dengan angka yang sangat kecil, apalagi jika laku, Maryam hanya bisa membawa pulang sekitar Rp10.000. Seringkali uang itu tak cukup bahkan untuk membeli beras. Pernah, mereka hanya menahan lapar dengan air putih sepanjang hari.

Kerabat, Maryam yang seharusnya masih bisa fokus belajar dan bermain justru harus memikul tanggung jawab yang begitu besar di usia yang masih sangat kecil. Cerita ini bisa jadi tidak hanya dialami oleh Maryam saja.
Masih banyak anak-anak lain yang berada dalam kondisi serupa dan harus berjuang demi bertahan hidup. Mereka sangat membutuhkan uluran tangan kita. Jangan biarkan mereka berjuang sendirian.


![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik