
Dalam kesehariannya, Mak Elim (65) berjualan Bangkerok, makanan tradisional dari beras ketan dan kelapa. Di usia senjanya, tubuh Mak Elim sudah renta. Punggungnya bongkok sejak kecil, namun ia tetap berjalan kaki berjualan demi menghidupi anak, cucu, dan cicit yang tinggal bersamanya.

Setiap hari pukul 5 subuh, Mak Elim sudah keluar rumah membeli bahan. Pukul 6 pagi ia mengolah Bangkerok seorang diri. Siang hari, dari pukul 12 hingga 2–3 sore, Mak Elim berjalan kaki lebih dari 3 kilometer, menjajakan Bangkerok seharga Rp10.000 per buah, tanpa peduli panas atau hujan.
Meski sedang sakit, tekanan darah dan gula darahnya naik, Mak Elim tetap berjualan. Bahkan untuk modal dagang, ia harus meminjam uang dari tetangga. Penghasilannya sangat kecil, kadang hanya Rp20.000–Rp50.000 per hari, dan sering kali dagangannya tidak habis.

Mak Elim menanggung kebutuhan hidup banyak orang seorang diri. Suaminya telah meninggal, sementara anak-anak lainnya hidup pas-pasan. Rumah yang mereka tempati pun nyaris roboh, atap bocor saat hujan, dinding hangus bekas kebakaran, dan harus ditopang tiang agar tidak runtuh.
Mak Elim hanya ingin rumah yang aman untuk ditinggali dan sedikit modal usaha agar bisa bertahan hidup tanpa harus memaksakan tubuhnya yang sakit.
Ulurkan tangan untuk membantu Mak Elim memperbaiki rumahnya, menambah modal usaha, dan memenuhi kebutuhan hidupnya serta cucu-cicitnya.


![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik