Sejak dini hari, Abah Wasna (70) memikul tumpukan sapu di pundaknya, berjalan kaki berkeliling menjajakan dagangan. Di usia senjanya, ia tetap bertahan meski tubuhnya tak lagi kuat.
Asma kronis kerap membuat napasnya sesak dan dadanya nyeri. Penglihatannya mulai buram, langkahnya sering terhenti. Demi upah sekitar Rp15.000—itu pun jika ada yang membeli—Abah terus berjalan. Tak jarang, karena kelelahan, ia ditemukan terduduk lemas hingga tertidur di pinggir jalan dengan sapu-sapunya di samping.

Melihat kondisi tersebut, bantuan dari Sahabat Peduli telah kami salurkan berupa kebutuhan pokok dan santunan tunai. Bantuan ini menjadi sangat penting untuk memastikan Abah bisa tetap makan dengan layak, sekaligus membantu kebutuhan harian yang tak bisa ia penuhi di tengah penghasilan yang tidak menentu.
Penyaluran ini menjadi bukti bahwa Abah Wasna tidak sendiri. Ada banyak hati baik yang peduli dan ingin menguatkan langkahnya di tengah keterbatasan.
Terima kasih atas setiap kebaikan yang telah diberikan. Semoga menjadi amal jariyah dan menghadirkan sedikit kelegaan bagi Abah Wasna.








