
“Dagangan sepi neng, Abah keliling kesana kemari sampe ke lampu merah, rasanya sedih kalo sepi, harap-harap ada yang beli di lampu merah” Ujar Abah Maman

Di usia 73 tahun, Abah Maman sebenarnya sudah menyerah sama tubuhnya. 25 tahun punya penyakit stroke, dan mencoba berobat tetapi tidak bisa sembuh. Alhasil satu lengannya kaku tak berdaya, sementara virus di paru-paru seringkali mencuri napasnya hingga sesak hebat.

Kondisi tulangnya pun kini begitu rentan, bahkan ahli medis tak lagi berani menyentuhnya karena risiko patah yang sangat tinggi. Namun, di tengah ancaman kelumpuhan total, Abah tetap memaksakan diri keluar rumah, menyeret langkah kakinya yang nyeri demi menjajakan lembaran poster di pasar.
Satu-satunya alasan Abah menolak diam di rumah adalah sang istri yang kini punya penyakit jantung kronis. Selama dua tahun terakhir, istri Abah bergantung sepenuhnya pada obat-obatan yang harganya tidak murah. Padahal penghasilan Abah hanya 30.000 sehari, itu pun jika poster laku.

Belum lagi berbagai pengalaman sulit dialami Abah, seperti diusir saat menumpang jualan di depan toko orang lain, dagangannya sering tertutup kendaraan parkir, dan pindah-pindah lapak dengan kondisi kaki Abah yang tak kuat lagi menopang tubuhnya. Semua dialami Abah Maman sendirian.
Pernah dalam sebuah kemacetan parah, Abah terpaksa berjalan kaki menempuh rute yang seharusnya singkat menjadi perjalanan 5 jam yang menyiksa. Dengan sisa tenaga dari tubuh yang terkena stroke, ia berhenti berkali-kali di trotoar, memegangi dadanya yang sesak.

Kerabat, Abah Maman di masa tuanya butuh dukungan agar bisa beristirahat tanpa perlu memikirkan obat dan perut yang kosong. Uluran tangan kita akan menjadi penopang bagi kesehatan Abah dan istrinya. Kita dapat berpartisipasi dalam perjuangan Abah Maman dengan menyebarkan kisah ini dan berdonasi dengan cara:


Terimakasih,
Ruang Kita Peduli
![]()
Belum ada Fundraiser