
Di usia 68 tahun, Abah Mahmudin tetap mendorong gerobak es cendol keliling meski tubuhnya renta dan kakinya tak lagi sempurna. Ia berjualan demi satu hal sederhana, agar bisa makan bersama istrinya di rumah.
Sejak pagi hingga sore, Abah melangkah tertatih menyusuri jalanan menuju pasar yang jauh dari rumahnya dengan gerobak tua yang sering bermasalah. Kadang ia hanya menjual dua gelas es, menerima berapa pun uang yang diberikan pembeli.

Penghasilan yang tak menentu membuat Abah kerap pulang dengan hati sedih karena kebutuhan rumah belum tentu terpenuhi. Untuk bertahan, setiap pagi ia menjadi buruh pengurus ternak tetangganya meski upahnya sangat kecil.
Kondisi kakinya sempat lumpuh selama empat bulan, meninggalkan rasa nyeri yang terus ia rasakan hingga kini. Meski sakit sering datang, Abah tak pernah berhenti berjuang mencari nafkah.

Di tengah keterbatasan hidupnya, Abah hanya berharap memiliki gerobak baru agar bisa terus berjualan dengan layak. Orang baik, mari kita bantu meringankan langkah Abah Mahmudin dan mewujudkan harapan kecilnya.

![]()
Belum ada Fundraiser