
Di ujung jalan, terlihat anak berseragam SD membawa kerupuk dan ciki di tangannya. Siapa pun mungkin akan mengira itu jajanannya, tapi sayangnya itu adalah dagangan yang harus ia jual demi bertahan hidup.

Sepulang sekolah, Azil tidak langsung pulang untuk istirahat seperti anak-anak lain seusianya. Di usia 13 tahun, ia justru melanjutkan harinya dengan berkeliling menjual kerupuk dan ciki sampai sore demi mencari penghasilan.
Di balik senyumnya, Azil menyimpan kehilangan yang begitu besar. Ayahnya meninggal karena kecelakaan pada tahun 2015. Tiga tahun setelahnya, sang ibu juga meninggal akibat longsor. Sejak saat itu, Azil harus tumbuh tanpa kedua orang tuanya.


Kini Azil hanya tinggal bersama neneknya yang usianya sudah lebih dari 90 tahun. Kondisi nenek yang sudah renta dan sering sakit membuatnya tak lagi bisa bekerja. Sedihnya lagi, rumah yang dulu mereka tempati juga rubuh, sehingga kini mereka harus menumpang untuk tinggal.
Mau tidak mau, Azil mengambil peran besar di usianya yang masih kecil. Dari setiap kerupuk dan ciki yang terjual, ia hanya mendapat keuntungan sekitar Rp500. Hasil itu dipakai untuk kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan neneknya. Meski berat, Azil terus berjuang semampunya agar ia dan nenek tetap bisa bertahan hidup. “Azil cuma pengen jualan laku terus, biar bisa bantu nenek”

Kerabat Peduli, sedikit bantuan yang kita berikan dapat membantu kebutuhan hidup Azil dan neneknya, membantu biaya sekolah, kebutuhan harian, serta menjaga harapan kecil Azil agar tetap hidup. Yuk dampingi perjuangan Azil hari ini.


![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik