
Sepulang sekolah, Aul (10th) tak pernah punya waktu untuk bermain seperti anak seusianya. Ia memilih keliling jualan gula demi bertahan hidup dan pengobatan neneknya.

Sejak kedua orang tuanya berpisah dan tak lagi mengurusnya, hidup Hulafaul Alfalaki alias Aul berubah drastis. Ia tinggal bersama sang nenek yang hidup dalam kesulitan.
Saking sulitnya, sang nenek hanya mampu membawa Aul menumpang tinggal di dapur milik tetangga. Ruang sempit itulah yang menjadi tempat mereka berteduh setiap hari.

Meski masih kecil, Aul tak ingin diam melihat neneknya kesulitan. Sepulang sekolah, ia mengambil gula, minyak, dan terigu dari warung dengan sistem upah lalu menjualnya keliling dari rumah ke rumah.

Malangnya, sang nenek sering sesak napas dan membutuhkan pengobatan. Namun biaya berobat terasa begitu berat untuk mereka penuhi. Aul hanya bisa berusaha lebih keras, meski penghasilannya tak seberapa dan tenaganya terbatas.

Sedihnya, jualan Aul sering tak laku. Demi menutupi kebutuhan sehari-hari, ia terpaksa berhutang. Sementara biaya berobat nenek tak sedikit dan hutang terus menumpuk. Di usia sekecil itu, Aul harus memikul beban yang terlalu berat.
Aul tidak meminta hidup mewah. Ia hanya ingin neneknya sehat dan tidak lagi menahan sakit. Bantuan dari orang-orang baik dapat menjadi harapan besar, agar Aul tak lagi berjuang sendirian menghadapi hidup yang begitu berat.

![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik