
“Kalo laper ditahan aja kak, tapi jadi tambah pusing di kepala" Ucap Albie saat dagangan gak laku.

Di usia 13 tahun, Albie seharusnya duduk di bangku SMP, namun ia terpaksa berhenti sekolah sejak kelas 5 SD demi menjadi tulang punggung keluarga. Setiap hari ia menyusuri jalanan menjajakan donat dengan upah hanya Rp500 perak dari setiap donat yang terjual. Dengan tubuh kecilnya, ia berjalan hingga larut malam menahan lelah bahkan nyaris tertabrak mobil demi membawa pulang uang hasil keringatnya.

Albie memikul tanggung jawab untuk adik-adiknya sejak orang tua mereka bercerai. Dari penghasilan Rp30.000 sehari, ia harus menyisihkan uang untuk bekal sekolah kedua adiknya serta membeli susu untuk adiknya yang masih balita.
Demi menambah penghasilan, Albie tak pilih-pilih pekerjaan, mulai dari jualan kerupuk hingga membantu antar pesanan, menyiapkan dagangan, dan cuci piring di tempat jualan cuanki demi upah yang tak seberapa.

Dibalik ketegarannya, Albie menyimpan keinginan untuk sekolah kembali karena Albie belum bisa membaca sampai sekarang. Ia juga pernah pulang sambil menangis tersedu karena diusir saat berjualan atau dimarahi pemilik donat jika dagangannya tidak laku terjual habis. Semua kepahitan itu ia telan sendirian, menukar masa kecil dan masa depannya sendiri agar adik-adiknya tetap bisa bersekolah.

“Harapannya adek-adek tetap sekolah, gaboleh kayak aku kakaknya putus sekolah, harus lanjutin sekolah biar pinter supaya naik kelas.” pesan Albie untuk adik-adiknya.
Mimpi Albie sederhana, ia hanya ingin kembali merasakan sekolah tanpa membuat adik-adiknya berhenti sekolah. Bisa makan cukup bersama 3 adiknya. Kita dapat menjadi bagian dari perjalanan Albie untuk kembali meraih masa depannya dan membantu meringankan beban hidupnya dengan cara:


Terimakasih,
Ruang Kita Peduli
![]()
Belum ada Fundraiser