
Di usia 75 tahun, Abah Warna masih berjalan kaki dari pagi hingga malam demi menjual camilan. Semua dilakukan agar Mak Eti bisa makan, mendapat obat, dan tetap bertahan menjalani hari-harinya.

Malam itu kami bertemu Abah Warna (75) dan Mak Eti (60) yang masih berkeliling menawarkan camilan. Jam sudah menunjukkan sekitar pukul delapan malam, tapi mereka terus berjalan menyusuri jalan. Abah bilang, selama dagangannya belum habis, beliau belum berani pulang. Perjalanan itu ternyata tidak mudah bagi keduanya. Di tengah perjalanan, Mak Eti beberapa kali berhenti karena sakit lambungnya kambuh. Penglihatannya yang kabur akibat katarak membuat Abah terus mendampingi agar istrinya tidak terjatuh.

Sementara Abah sendiri berjalan tertatih karena salah satu jari kakinya telah diamputasi akibat kecelakaan kerja. Semua perjuangan itu belum tentu membawa hasil yang cukup. Setiap bungkus camilan dijual seharga Rp5.000 dengan keuntungan sekitar Rp1.000. Saat dagangan sedang sepi, Abah dan Mak Eti hanya membawa pulang sekitar Rp15.000. Uang itu harus cukup untuk makan, membeli obat, dan memenuhi kebutuhan mereka sampai esok hari.

Yang lebih menyakitkan, perjuangan itu pernah dibalas dengan penipuan. Abah bercerita kalau beberapa kali menerima uang palsu dari pembeli. Mereka juga pernah tertipu membeli obat palsu hingga kehilangan ratusan ribu rupiah. Sambil memandang dagangannya, Abah berkata pelan, "Kalau saya berhenti jualan, Emak nanti makan apa... berobat pakai apa."
Rasanya berat meninggalkan Abah dan Mak Eti malam itu. Tapi waktu sudah semakin larut, dan kami pun harus berpamitan. Sebelum kami pulang, Abah hanya berpesan kalau beliau ingin istrinya bisa berobat dan sembuh. Karena itu kami mengajak Kerabat Peduli untuk bersama-sama ringankan perjuangan Abah Warna Semoga, lewat kepedulian kita, mereka bisa menjalani hari tua dengan lebih tenang.

![]()
Belum ada Fundraiser