
Dari kejauhan terlihat Abah Utis berjalan pelan, menuntun langkah sambil meraba-raba jalan, termos dan keranjang kopi tergantung di lehernya.

Beliau penjual kopi keliling yang sudah tak bisa melihat sejak kecil, tapi tetap gigih menjemput rezeki dengan caranya sendiri.

Setiap pagi, Abah berjalan keliling kampung menawarkan kopi hangat. Karena buta, Abah mempercayakan pembeli untuk menyeduh dan membayar seikhlasnya. Tak jarang, ia hanya membawa pulang beberapa ribu rupiah.
Tapi buat Abah, yang penting bukan besar kecilnya hasil, melainkan rasa syukur bisa tetap berusaha tanpa harus meminta-minta. Setelah berjualan, Abah selalu ke masjid membersihkan lantai dan melafalkan ayat-ayat Al-Qur’an sebelum azan berkumandang.

Namun belakangan, tubuh Abah mulai menyerah. Ia sering merasakan nyeri hebat di perut bagian bawah dan daerah anus, tapi tetap memaksakan diri berjualan.
Saat diperiksa, ternyata Abah tak hanya mengidap ambeiyen kronis, ususnya kini sudah turun hingga ke area anus. Dokter bilang, Abah harus segera menjalani operasi agar kondisinya tidak makin memburuk. Tapi dengan penghasilan pas-pasan dan hidup sebatang kara, biaya operasi itu masih terasa mustahil bagi Abah.
“Allah tidak memberi rezeki secara cuma-cuma. Selagi tubuh ini masih bisa berfungsi, Abah akan terus berikhtiar,” tutur Abah lirih, menahan nyeri sambil tetap memegang termos kopinya. Ia tidak pernah meminta-minta, tapi kali ini, Abah benar-benar butuh uluran tangan kita. Sebab jika tidak segera dioperasi, ususnya bisa makin turun dan membahayakan nyawanya.

Kerabat, yuk bantu Abah Utis agar bisa segera menjalani operasi dan sembuh dari penyakitnya. Semoga setelah pulih nanti, Abah bisa kembali berjualan kopi dengan tenang, menebar semangat ikhtiar yang tak pernah padam, meski dunia yang ia lihat hanyalah gelap.

![]()
Belum ada Fundraiser