
Setiap pagi selepas Subuh, Abah Pepen (70) mulai berjualan kopi keliling. Dari pagi hingga sore, ia berjalan kaki menggendong termos air panas di dada menahan lelah dan rasa sakit demi istri dan dua anaknya di rumah.
Dulu Abah bekerja sebagai pengrajin kayu. Namun karena usia dan kondisi fisik yang menurun, ia terpaksa berhenti. Kini, jualan kopi keliling menjadi satu-satunya sumber penghasilan.

Dalam sehari, penghasilan Abah hanya sekitar Rp25.000–Rp30.000. Jumlah itu tak cukup untuk kebutuhan keluarga. Sang istri sesekali bekerja serabutan, namun kondisi ekonomi membuat salah satu anak Abah harus putus sekolah.
Lebih berat lagi, Abah kini hidup dengan satu ginjal akibat operasi batu ginjal di masa lalu. Bekas operasinya sering terasa nyeri, terutama saat menggendong dagangan. Abah kerap berhenti berjualan hanya untuk menahan sakit.
Berjualan di jalanan juga penuh risiko. Abah pernah diusir, diberi uang palsu, hingga tersenggol angkot yang menyebabkan tangannya melepuh karena air panas. Meski begitu, Abah tetap kembali berjualan karena jika tidak, keluarga di rumah tak bisa makan.

Abah hanya ingin memiliki gerobak kecil agar tidak lagi menggendong dagangan di dada, serta berharap anaknya bisa kembali bersekolah.
Mari ringankan perjuangan Abah Pepen agar bisa berjualan dengan lebih layak dan memberi masa depan untuk anak-anaknya.


Sekecil apa pun bantuanmu, sangat berarti bagi Abah Pepen.
![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik