
“Aduh..eungap (sesak)..gak kuat nanjak lagi” Ucap Abah sambil tersengal-sengal
Setiap pagi, Abah Nani (70) berjalan menyusuri kampung dengan pikulan cincau di pundaknya. Napasnya sering terhenti tiba-tiba seakan ada tangan yang menggenggam erat dadanya. Abah sering berhenti mendadak, menahan sesak yang menusuk. Tapi setelah beberapa detik, Abah memaksa dirinya melangkah lagi.

Abah membawa dagangan cincau yang makin jarang diminati, hanya Rp3.000 per mangkuk. Keringat turun deras bukan karena panas, tapi karena napas Abah begitu berat, dadanya terasa nyekik tiap kali mengangkat pikulan. Kadang kakinya ikut goyah juga, tapi Abah terus berusaha. Ia tak menghitung sudah berapa kali sesaknya kambuh, yang penting dagangannya laku satu-dua mangkuk.

Abah melakukan semua itu demi Emak, istrinya yang sudah lama sakit tak terobati. Seringnya Abah pulang tanpa cukup uang untuk beli obat. Pernah beberapa kali, Abah hanya bisa menyuguhkan nasi dan garam untuk istrinya, bukan karena tak tahu itu bikin kondisi Emak makin parah, tapi karena cuma itu yang ada.

Setiap langkah Abah terasa seperti antara hidup dan pingsan. Tapi Abah tak punya pilihan lain. “Kalau saya berhenti kerja, Emak minum obat apa?” katanya.
Kerabat, yuk bantu Abah Nani agar beliau tidak harus memilih antara napasnya sendiri dan obat untuk istrinya setiap hari. Selamatkan hari-hari Abah dan Emak, agar mereka bisa makan dengan layak dan memperoleh pengobatan optimal tanpa harus mempertaruhkan nyawa Abah di jalanan.

![]()
Belum ada Fundraiser