
Di usianya yang menginjak 80 tahun, dengan tubuh bungkuk dan tangan yang gemetaran hebat, beliau tetap memanggul bilik bambu dilingkarkan di pundaknya, keliling dari satu kampung ke kampung lain. Tapi hari ini… tak satu pun bilik yang laku.

Sudah lebih dari 20 tahun Abah Mimi menggantungkan hidup pada keahlian menganyam bilik. Itu satu-satunya keterampilan yang masih bisa beliau lakukan. Namun kini, tenaganya kian rapuh, bahunya goyah saat memanggul, jemarinya bergetar saat menganyam ruas bambu.
Yang membuat Abah bertahan hanyalah istrinya di rumah. Setiap bilik yang terjual 20 ribu rupiah saja, sudah cukup untuk membeli beras, atau paling tidak lauk sederhana seperti ikan asin.
Tekad Abah bukan sekadar untuk bertahan hidup, tetapi agar istrinya tak kekurangan makan di masa tua mereka.

Namun kenyataannya pahit, hampir setiap hari Abah pulang dengan bilik yang tetap utuh… tanpa penghasilan.
Beratnya beban di pundak bukan hanya bilik, tapi juga kekhawatiran. Apalagi kondisi fisiknya yang bungkuk dan gemetaran membuat langkahnya semakin lambat. Abah ingin berhenti keliling, tapi untuk membuka usaha kecil pun ia tak punya apa-apa.

Kerabat, hari ini kita bisa jadi perpanjangan tangan untuk Abah Mimi. Bantuanmu bisa membuatnya tak lagi harus keliling dengan tubuh renta itu, cukup untuk membuka usaha kecil di rumah, dan cukup untuk memastikan Abah serta istrinya bisa makan layak tanpa harus menahan lapar lagi. Yuk ringankan bebannya, panjangkan harapannya.

![]()
Belum ada Fundraiser