
Abah Kani (63 tahun) tetap berkeliling menjajakan sayuran demi memenuhi kebutuhan hidup bersama istrinya. Dari pagi sampai sore, Abah berjalan mencari pembeli, meski dagangannya belum tentu laku.

Bahkan, tak jarang dagangannya ditolak pembeli atau Abah mendapat omelan saat menawarkan sayurannya.
Abah Kani memiliki benjolan besar di punggungnya dan pernah mengalami batuk darah. Namun, di tengah kondisi sakitnya, Abah tetap harus berjualan karena kebutuhan hidup tak bisa menunggu. Saat tak punya uang untuk berobat, Abah hanya bisa minum air putih.

Abah Kani juga tak lagi memiliki rumah yang layak setelah rumahnya roboh. Kini, ia tinggal bersama anaknya, sementara kebutuhan sehari-hari bersama sang istri tetap harus dipenuhi. Di tengah kondisi tersebut, Abah masih harus berjuang mencari penghasilan dari jualan sayuran yang tak menentu.
“Kalau sayuran nggak laku, Abah bingung harus dapat uang dari mana…”
Penghasilan Abah hanya sekitar Rp30–50 ribu sehari dan itu pun tidak menentu. Belum lagi, Abah harus memikirkan modal untuk membeli sayuran dan ongkos berjualan yang bisa mengurangi hasil pendapatannya. Ketika dagangan tak laku, modal yang sudah dikeluarkan pun terancam hilang, sementara kebutuhan dan biaya pengobatan tetap menanti.

Kerabat Peduli, Abah Kani harus menghadapi sakit, sulitnya mencari nafkah, hingga kehilangan tempat tinggal.
Ruang Kita Peduli mengajak teman-teman untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya pengobatan Abah. Yuk, sisihkan rezeki terbaikmu agar Abah bisa mendapatkan pengobatan yang dibutuhkan dan menjalani hari-hari dengan lebih layak.


![]()
Belum ada Fundraiser