
Mungkin, tanpa sadar kita pernah memiliki pikiran seperti itu. Menilai seseorang hanya dari apa yang terlihat di depan mata. Namun, setelah mengenal Abah Endang lebih dekat, semuanya berubah.

Di usia 107 tahun, Abah Endang masih memikul baskom gorengan dan berjalan dari satu tempat ke tempat lain. Bukan karena ingin, tetapi karena masih ada seseorang yang harus beliau perjuangkan.
Di rumah, sang istri yang penglihatannya hampir hilang menunggu kepulangan Abah dengan penuh harap.

Perjuangan ini harus Abah tempuh di tengah sakit stroke parah yang membuat tubuhnya bungkuk dan kakinya kaku. Alih-alih berobat, Abah memilih menahan sakitnya karena uang yang ada habis untuk beli beras.
Sering kali kalau strokenya kambuh di jalan sampai badannya kaku, Abah cuma bisa duduk terdiam sambil mengganjal perutnya yang lapar dengan minum air teh hangat bawaan rumah.

Kerabat Peduli, tidak semua perjuangan terlihat oleh mata. Kadang, seseorang yang tampak biasa saja ternyata sedang memikul beban hidup yang luar biasa.
Hari ini, kita bisa menjadi alasan Abah Endang dan istrinya merasa bahwa mereka tidak berjuang sendirian.
Mari kirimkan dukungan terbaik untuk Abah Endang. Karena sekecil apa pun bantuan yang diberikan, bisa menjadi harapan besar bagi mereka yang sedang berjuang.


![]()
Belum ada Fundraiser