
Laki-laki tidak pernah banyak bercerita seperti Abah Eman yang rela menanggung segala beban sendirian dalam diam, demi keluarganya...
Pagi-pagi, Abah Eman sudah terlihat buru-buru keluar rumah. Bukan tanpa alasan sebab ia harus berangkat lebih awal agar tidak terlambat menjual sapunya. Karena kalau datang terlambat, jalanan sudah sepi dan pembeli tidak ada lagi.
Ia juga harus cepat berjalan, karena membawa sapu yang banyak. Kalau jalan lambat, justru terasa semakin berat dan melelahkan.

Di usia 77 tahun, Abah masih berjalan kaki sejauh kurang lebih 4 kilometer setiap hari. Di punggungnya, ia memikul banyak sapu lidi yang ia buat sendiri dari pelepah kelapa. Satu sapu dijual sekitar Rp10.000, tapi tidak selalu laku. Kadang hanya beberapa yang terjual, bahkan sering kali sisa dagangan ia bawa pulang kembali.
Setiap sapu adalah hasil kerja kerasnya sejak pagi di hutan. Abah mengumpulkan bahan sendiri, merangkai dengan tangan renta, lalu menjualnya keliling kampung. Meski tubuhnya sudah lemah, ia tetap memaksakan diri berjalan jauh, beberapa kali harus berhenti karena kelelahan.

Bahkan pernah tangannya terluka hingga berdarah saat memotong pelepah kelapa. Tapi ia tetap bekerja. Karena bagi Abah, berhenti bukan pilihan, berhenti juga berarti tidak ada penghasilan. Abah hanya ingin keluarganya tidak kelaparan.

Abah Eman hanya ingin menjadi kepala keluarga yang bertanggung jawab. Ia rela terluka dan lelah agar keluarganya tetap bisa makan. Tapi sampai kapan ia harus berjuang sendiri?
Tidak ada salahnya kita membantu. Sedekahmu bisa menjadi jembatan rezeki untuk Abah dan keluarganya. Mari bantu Abah Eman agar bisa menjalani hari tuanya dengan lebih layak.


![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik